Home » , » Kota Cerdas di Indonesia 2015

Kota Cerdas di Indonesia 2015

Written By Unknown on 8/26/15 | 8:46 PM


Kamis (13/8) malam ini, harian Kompas bekerjasama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan didukung oleh PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) mengumumkan penghargaan Anugerah Kota Cerdas 2015. Penganugerahan digelar di Grand Ballroom, Hotel Shangri-La, Jakarta. Acara ini dihadiri oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla. 

Predikat Juara I untuk kategori kota berpenduduk di atas 1 juta jiwa diraih oleh Kota Surabaya Jawa Timur. Kemudian Juara II adalah Kota Tangerang Banten. Juara III diraih Kota Bandung Jawa Barat, kemudian Juara IV adalah Kota Depok Jawa Barat, dan Juara V adalah Kota Semarang Jawa Tengah.

Sedangkan Anugerah Kota Cerdas 2015 kategori kota berpenduduk 200.000 hingga 1 juta jiwa, Juara I disabet oleh Kota Yogyakarta DIY. Juara II diraih Kota Balikpapan Kalimantan Timur, Juara II Kota Surakarta Jawa Tengah, Juara IV Kota Pontianak Kalimantan Barat, dan Juara V adalah Kota Malang Jawa Timur.

Untuk Anugerah Kota Cerdas 2015 kategori kota berpenduduk hingga 200.000 jiwa, Juara I diraih oleh Kota Magelang Jawa Tengah. Disusul oleh Kota Madiun Jawa Timur sebagai Juara II, kemudian Kota Bontang Kalimantan Timur untuk Juara III, Kota Mojokerto Jawa Timur sebagai Juara IV, dan Kota Salatiga Jawa Tengah sebagai Juara V.

Selain kategori berdasarkan jumlah penduduk, Anugerah Kota Cerdas 2015 juga memberikan penghargaan untuk Kota Cerdas dari tiga kategori, yaitu kategori ekonomi, kategori sosial, dan kategori lingkungan hidup. Penghargaan untuk kategori ekonomi jatuh pada Kota Magelang Jawa Tengah. Sedangkan penghargaan untuk kategori sosial jatuh pada Kota Madiun Jawa Timur. Serta kategori lingkungan jatuh pada Kota Surabaya Jawa Timur.

Butuh pemimpin tegas

Dalam sambutannya, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, mayoritas warga kini tinggal di perkotaan. "Karena itu kota harus lebih sehat dan nyaman," katanya.

Kota-kota di Indonesia mestinya sudah memanfaatkan teknologi, agar biaya kota lebih sedikit tapi dengan jumlah pegawai lebih besar. "Hampir semua kota yang baik punya perencanaan yang baik. Pemimpin yang tegas," kata Kalla.

Seorang pemimpin tak mungkin bisa menyenangkan semua orang. Pemimpin perlu tegas. "Aturan-aturan kota harus dipatuhi semua orang. Kita terlalu permisif sehingga aturan sering dilanggar," kata Kalla.

Pemerintah akan berusaha membantu rakyat agar hidup sehat. "Bersihkan kota, olahraga, bangun lapangan yang banyak. Kota New York dulu kotor, lalu dibereskan. Pemimpin kota turun ke bawah. Believe your eyes!," kata Kalla.

Beberapa aplikasi telah dibuat untuk membantu mengurai persoalan kota. "Mengelola kota yang cerdas memang butuh pemimpin cerdas. Terima kasih kepada harian Kompas untuk acara Kota Cerdas ini. Media mengritik dengan memberi solusi," kata Kalla.

Ramai di media sosial

Sejak Kamis siang, linimasa media sosial terutama Twitter dibanjiri berbagai informasi terkait Indeks Kota Cerdas dengan menggunakan tagar #KotaCerdas. Sejak Kamis siang memang sudah digelar dua sesi seminar yang membahas soal kota cerdas.

Akun Twitter harian Kompas yaitu @hariankompas sejak siang mengabarkan acara tersebut. Penghargaan Kota Cerdas ini merupakan puncak dari rangkaian penyusunan Indeks Kota Cerdas Indonesia (IKCI) 2015 yang telah diluncurkan pada 24 Maret 2015 lalu.

Kompas dan PGN menyelenggarakan diskusi panel dan sharing session. Pada sesi pertama, diskusi bertajuk "Tantangan dan Solusi Pengembangan Kota Cerdas Indoensia".

Hadir sebagai narasumber dalam topik ini ialah Komara Djaya, Ketua Program Studi Kajian Pengembangan Perkotaan UI; Danang Parikesit, Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia; dan Suhono Harso Supangkat, Ketua Lembaga Inovasi dan Kewirausahaan ITB.

Diskusi panel dan sharing session di sesi kedua akan membahas tema "Implementasi Pengembangan Kota Cerdas". Hadir sebagai narasumber dalam topik ini ialah Arief Rachadiono Wismansyah, Wali Kota Tangerang; Ridwan Kamil, Wali Kota Bandung; Tri Rismaharini, Wali Kota Surabaya; Sigit Widyonindito, Wali Kota Magelang; dan Rizal Effendi, Wali Kota Balikpapan.

Dalam sambutannya, Pemimpin Redaksi harian Kompas Budimen Tanuredjo mengatakan, tahun 1950 hanya 26 persen warga tinggal di kota. "Tahun 2025 akan ada 85 persen warga tinggal di kota, padahal daya dukung terbatas," kata Budiman, seperti yang dikicaukan akun @hariankompas.

Litbang Kompas melakukan survei tatap muka kepada 6.000 responden di 15 kota tersebut. Sebanyak 755 tenaga lapangan lepas terlibat dalam survei ini.

Pendapat masyarakat merupakan salah satu faktor yang berpengaruh signifikan terhadap penilaian IKCI 2015. Masyarakat memiliki peranan sentral dalam proses pengindeksan karena berhak memberikan penilaian langsung terhadap kinerja pelayanan birokrasi dan berbagai fasilitas yang disediakan oleh pemerintah kota. Sementara, tim dari ITB juga melakukan verifikasi terhadap data-data sekunder yang sebelumnya sudah dikumpulkan.
Hasil survei masyarakat dan olahan data sekunder yang diverifikasi dikombinasikan dan menjadi dasar pemeringkatan kota dalam IKCI 2015. Ke-15 kota nomine kemudian menduduki peringkat pertama hingga kelima Kota Cerdas Indonesia 2015 yang terbagi dalam tiga kategori kota, yakni kelompok kota berpenduduk sampai dengan 200.000 jiwa, kota berpenduduk di atas 200.000 sampai dengan 1 juta jiwa, dan kota berpenduduk lebih dari 1 juta jiwa.

Menurut Budiman, bukan pekerjaan mudah untuk meneliti indeks kota cerdas. "Kerja Litbang Kompas dan ITB tak bisa diintervensi siapapun," katanya.

Kota cerdas yang diharapkan

Dirut PGN M Wahid Sutopo mengatakan, di usia PGN ke-50, jaringan infrastruktur gas bumi sudah sampai ke beberapa kota. Pihaknya bersinergi dengan beberapa kota untuk memudahkan distribusi energi gas bumi.

"Cadangan energi gas bumi di Indonesia masih besar. Tantangannya bagaimana kita memanfaatkan energi gas bumi. Harus bangun infrastrukturnya. PGN akan terus bangun infrastruktur jaringan di kota-kota,"kata Wahid.

Joddy Hernady dari Telkom Indonesia mengupas soal kota cerdas dan kriterianya. Menurutnya, kota cerdas harus punya empat hal: aman, efisien, nyaman, dan berbasis ICT ( information and communication technologies).

Pilar pertama ICT adalah infrastruktur. Saat ini 13,2 juta rumah siap dilewati fiber optic. "Pada 2015 sudah ada 100 kota tercover broadband. Pilar kedua adalah perlu bangun layanan/kesiapan menjadi kota cerdas," katanya.

Joddy mengingatkan bagaimana aplikasi/data di pemerintahan diintegrasikan. Ia memberi contoh misalnya aplikasi e-PBB, SiapOnline, marketplace, akta online, dan pemantauan kota.

Komara Djaja menekankan mengapa kota harus cerdas. "Hanya 4 persen tanah dunia untuk kota tapi kota hasilkan 80% GDP dunia," katanya.

Pemimpin yang digandrungi hasil seleksi dari kota dan masa depan Indonesia dari kota juga. "Kota pusat kekuasaan, produktivitas, kemakmuran, kebudayaan, dan peradaban," kata Komara.

Namun, kota juga pusat malapetaka dengan adanya kemacetan, lingkungan buruk, dan banyak lagi. "Diperlukan pengelolaan kota yang cerdas dalam pahami masalah kota yang kompleks," kata Komara.

Selama ini banyak komunitas kota yang cerdas tapi kapasitas pengelola kotanya yang kurang. Cerdas dalam hal teknologi informasi dan inovasi, juga harus dibatengi dengan cerdas secara sosial. "Teknologi Informasi sebagai pemicu dan sarana menuju #KotaCerdas. Peran teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dapat membantu pemecahan permasalahan dan tantangan kehidupan kota sehingga warga jadi lebih nyaman hidup di kota," kata Komara.

Mesin pertumbuhan

Ketua Program Studi Kajian Pengembangan Perkotaan UI Danang Parikesit mengungkapkan soal kota sebagai mesin pertumbuhan. Pendapatan per kapita Jakarta, misalnya, empat kali dibanding kota lain. "Bagaimana mencapai kota dengan mobilitas yang cerdas. Perumahan dekat stasiun, terminal, halte, harus dikasih insentif," katanya.

Suhono Harso Supangkat, Ketua Lembaga Inovasi dan Kewirausahaan ITB, mengatakan masalah perkotaan banyak. Tiap akhir pekan Bandung macet. Warga tidak bahagia. Kota diharapkan dapat mengatur sumber daya secara efektif dan efisien dalam pembangunan berkelanjutan dan kenyamanan.

"Untuk itu ICT sebagai enabler mutlak dibutuhkan. Kota cerdas adalah sebuah kota yang dapat mengatur sumber dayanya secara efektif dan efisien dalam mencapai pembangunan yang berkelanjutan," kata Suhono.

Model kota cerdas mampu menampilkan smart society, smart environment, dan smart economy.Smart economy ditandai dengan pusat ekonomi, sumber daya, pendidikan, industri. Smart society dilihat dari sisi keamanan, kesehatan, layanan publik, interaksi digital sosial. Sedangkan smart environment dilihat dari sisi public space, energi, dan lingkungan.

Komentar para wali kota

Wali Kota Tangerang Arief Rachadiono Wismansyah mengatakan kotanya telah mendapatkan dua kali Adipura Kencana. Punya 118 aplikasi untuk menopang kota cerdas. "Dibutuhkan platform yang sama agar saling terintegrasi. Ada 15 aplikasi terintegrasi. Kota Tangerang berupaya dengan memenuhi Tangerang yang layak huni. "Dulu panas dan banyak pabrik. Kami juga ada rencana enam akses tol. Mengembangkan e-city, punya call center, dan public information system," kata Arief.

Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito mengaku tak mengira bisa hadir di acara Kota Cerdas. Menurutnya, Magelang itu kota kecil tak punya sumber daya alam, tapi mengandalkan sebagai kota jasa. Misalnya memanfaatkan wisata karena memilki Candi Borobudur.

"Investasi terbuka, angka kemiskinan berkurang drastis. Tak ada jalan berlobang di Magelang," kata Sigit. Dari sisi pendidikan juga menggembirakan. Penataan sektor PKL juga berlangsung mulus. "Di jalan protokol tak ada PKL. Program sebaik apapun harus diimbangi dengan komunikasi yang baik,"katanya.

Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi mengatakan, kotanya tidak mengizinkan penambangan batubara. Balikpapan juga akan bangun Institut Teknologi Kalimantan di lahan 300 hektar. "Bumi Kalimantan sudah terlalu lama dieksploitasi, migas, hutan, batubara, tapi lupa bangun SDM," katanya.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharani mengatakan, Surabaya awalnya dikenal sebagai kota bonek, panas, kotor, dan dikenal pula dengan kawasan dolly-nya. "Sekarang sudah berubah wajah," katanya.

Pihaknya membuat lebih dari 1.000 perpustakaan yang bisa mengangkat indeks pembangunan. Saat ini Kota Surabaya punya 100 lebih lapangan olahraga. "Punya 84 sekolah sepakbola. Semua layanan publik elektronik. Adabroadband learning center pula. Surabaya juga kota mangrove, jadi kawasan konservasi, juga kawasan wisata,"katanya.

Di Surabaya tak ada pengemis dan pengamen. "Kalau mau ngamen harus di taman dan dibayar. Lansia di Surabaya juga sehat-sehat karena diajak senam dan olahraga. Orang gila dirawat," kata Risma.

Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mengatakan, kotanya punya pusat komando yang bisa mengendalikan semuanya dari sana. "Dengan adanya pusat komando, jarang rapat. Lapor bisa lewat online. Komplain selesai 90 persen. Mobil dinas dipasangi GPS," katanya.

"Kalau kena begal di Bandung, tekan panic button, patroli terdekat tiba di TKP," lanjut Ridwan. Bandung juga kaya dengan berbagai aplikasi di Android maupun iOS. Setidaknya ada 300 aplikasi terkait Bandung. Bandung juga punya unit reaksi cepat penambal jalan.

"Kami juga bisa pantau percakapan warga di medsos sehingga bisa tahu ada masalah apa. Dengan kota cerdas bisa bantu perbaiki negeri. Semua perizinanonline. Korupsi di Bandung pun turun," kata Ridwan.

Ridwan mengusulkan sebaiknya Kominfo bikin standar kota cerdas sehingga bisa dipakai seluruh kota di Indonesia. Ridwan juga usul agar pemerintah pusat menjadi pemimpin dalam pembuatan aplikasi kota cerdas yang nantinya bisa digunakan 500 kota di Indonesia.

Latar belakang

Laman resmi IKCI menyebutkan, penyusunan IKCI 2015 dilatarbelakangi semakin banyaknya penduduk di perkotaan dan kompleksitas permasalahan kota. Kondisi inilah yang kemudian melahirkan tantangan bagaimana cara mengelola kota dengan cerdas dan bertujuan akhir meningkatkan kesejahteraan serta kualitas hidup penduduknya. Perbaikan-perbaikan dan penerapan konsep kota cerdas pun muncul, termasuk di Indonesia.

Inovasi yang berhasil memperbaiki kualitas hidup warga inilah yang kemudian patut diapresiasi lewat penyusunan IKCI 2015 dan kegiatan penganugerahan Kota Cerdas 2015. Penghargaan ini diberikan untuk menghargai daerah yang sudah berhasil, sekaligu mendorong kota-kota lain untuk ikut bergerak bersama menerapkan konsep kota cerdas.

Faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam penyusunan IKCI 2015 meliputi aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Sebuah kota dianggap bisa menerapkan konsep cerdas dalam perekonomian apabila kota tersebut ditopang perekonomian yang berjalan dengan baik, termasuk kegiatan industri, dengan memaksimalkan sumber daya yang ada, terutama manusia sebagai aset dan aktor utama penggerak ekonomi.

Sementara dalam segi pengelolaan aspek sosial, sebuah kota dinilai berhasil jika masyarakat bisa menikmati keamanan, kemudahan dan kenyamanan di kota tersebut. Warga mendapatkan layanan kesehatan, transportasi, serta layanan publik lainnya yang mudah diakses dan layak.

Pengelolaan lingkungan yang cerdas juga dapat digambarkan sebagai kota yang bisa menyediakan hunian yang sehat, pengelolaan energi dengan prinsip hemat, dan kesesuaian tata ruang.

Bobot penilaian

Pengelolaan ekonomi, sosial, dan lingkungan tersebut harus didukung oleh teknologi informasi komunikasi, tata kelola, dan peran sumber daya manusia (SDM) yang baik. Ketiga hal yang disebut terakhir ini merupakan aspek enableryang juga dipertimbangkan dalam penilaian. Aspek enabler adalah hal-hal yang dianggap bisa mempercepat munculnya inovasi dan solusi cerdas, juga dinilai.

Indikator di dalam masing-masing aspek diberi bobot dengan nilai bobot diperoleh dari pendapat 15 akademisi dan profesional yang terkait dengan kota cerdas. Agar semakin sesuai dengan kondisi perkotaan di Indonesia, isu-isu strategis nasional yang dirujuk dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional juga dimasukkan dalam pertimbangan penyusunan bobot.

Pada tahap awal, data sekunder dari 93 kota otonom yang meliputi aspek ekonomi, sosial, lingkungan, dan enabler dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan juga ditambah dengan data dari pemerintah kota diolah. Hasilnya, muncul 15 kota nomine yang terbagi dalam tiga kelompok, yakni 5 kota untuk kategori kota berpenduduk sampai dengan 200.000 jiwa, 5 kota dengan penduduk di atas 200.000 sampai dengan 1 juta jiwa, dan 5 kota dengan penduduk lebih dari 1 juta jiwa. [kompas]
Share this article :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. MUTIARA NABAWI - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger