Artikel Terbaru

Cerita Cinta Islami Mengharukan : Cuma Bisa Berharap (Yang Status masih Lajang Harus Baca)

Written By Unknown on 8/28/15 | 8:02 AM


“Terima kasih Ya Alloh karena masih memberiku kesempatan melihat sang bintang harapan di tiap pagiku. Dan untukmu penjajah hatiku, selamat pagi.”

Begitu biasa Dinara memulai harinya di tiap pagi sebelum beraktifitas. Dua kalimat di awal rutinitas harinya itu telah menjadi suatu hal yang hampir tak pernah dia lupakan semenjak lima tahun terakhir. Seperti itu pula dengan hari ini.

Baginya, tiap hari terasa indah. Penuh dengan harapan dan optimisme. Kenapa? Karena ada dia.Karena ada cinta dihatinya. Gana, sang penjajah hatinya. Lelaki itu telah menjadi pangeran dalam hatinya selama hampir lima tahun ini. Sosoknya seperti telah begitu menyatu dalam jiwanya hingga dia tak bisa lagi berpaling pada lelaki lain. Bagi Dinara, Gana adalah seorang lelaki yang luar biasa. Ganaadalah instrumen terpenting dalam hidupnya.

Konyol sekali kedengarannya. Tapi begitulah dia mencintainya, mencintai Gana. Ah bukan, menggilainya tepatnya. Dinara tak peduli jikapun orang menganggapnya bodoh karena cinta itu. Dia hanya senang seperti itu. Dan selama hampir empat tahun terakhir, Aivi lah yang tahu kegilaan Dinara itu. Aivi adalah sahabatnya sejak dia masuk kuliah hingga mereka baru saja lulus kuliah saat ini. Meski begitu, Aivi tak pernah tahu lelaki mana yang sebenarnya dicintai sahabatnya selama ini. Ia hanya tahu kalau Dinara mencintai seorang lelaki bernama Gana. Itu pun entah pasti atau tidak.

“Kau melamun? Dia lagi?” tiba-tiba Aivi menepuk pundak Dinara, membangunkan ia dari lamunannya yang sedang berpetualang ke negeri antah berantah, mencari sesosok pangeran yang ia rindukan. Aivi lalududuk di samping Dinara sambil memperhatikan orang lalu-lalang di taman kota. Hari minggu pagi memang jadwal rutin mereka pergi ke taman kota.

“Hah, kau tanya apa Vi?” Dinara melongo.
“Emm benar tebakanku! Sampai kapan Gana akan membuatmu seperti ini?!” ujarnya.
“Seperti ini? Memangnya aku kenapa? Aku baik-baik saja.”
“Yah, mudah-mudahan memang benar kau tak apa-apa. Jangan sampai gara-gara dia, kau menutup mata dari kenyataan.”
“Maksudnya?” Tanya Dinara heran.
“Iya, bukankah kenyataannya kalian memang tidak pernah ada hubungan apa-apa? Dan entah perasaan seperti apa yang membuatmu begitu menggilainya. Cinta, penasaran, atau hanya obsesi?”
Jleb. Hati Dinara bergetar mendengar perkataan Aivi itu. Ia tidak tau kenapa, ada rasa sakit yang mengiris hatinya. Ia ingin menangis mendengarnya. Tapi, sebisa mungkin ia mencoba untuk tidak meneteskan air mata. Pilu rasanya.

“Di, kau baik-baik saja?” Aivi menatap Dinara dengan raut khawatir.
“Mmh. Iya.” Dinara mengangguk. Tapi ia bohong. Hatinya sama sekalitidak baik. Baginya perkataan Aivi itu adalah suatu pukulan maha dahsyat yang langsung menyadarkannya akan suatu ketidakpastian.
Batinnya menangis. Menyedihkan sekali rasanya. Benar kali ini ia terluka. Ini kenyataan. Aivi telah membangunkannya dari mimpi-mimpi itu. Tapi, Dinara tidak bisa jujur pada dirinya sendiri. Dinara tidak ingin mengiyakan apa yang telah Aivi katakan.

Lima tahun mencintai Gana dengan caranya sendiri rasanya cukup membuat ia hampir gila. Tapi, Dinara sangat menyenangi kegilaannya itu. Ia tak bisa dengan mudah kembali sadar dan melepaskan cintanya.
Dinara hanya diam. Tak sepatah katapun keluar dari bibirnya yang kelu itu. Ia hanya sedang berpikir saat ini. Berpikir tentang kata-kata Aivi tadi. Berpikir tentang dirinya, Gana dan perasaannya. Dan juga berpikir tentang sahabatnya itu, Aivi.

- Kenapa Aivi bisa berkata dan berpikir seperti itu? Kenapa baru sekarang dia berkomentar seperti itu setelah beberapa lama kami bersama? Apa dia telah begitu jengah dengan kegilaanku itu hingga dia bepikir seperti itu? Atau apakah memang cintaku pada Ganabegitu salah di matanya? Kenapa? -
Dinara merasa heran pada sahabatnya itu. Batinnya terus bertanya-tanya. Dinara merasa tak ada yang salah dengan perasaannya pada Gana. Ia hanya ingin mencintai seseorang seperti itu. Ia hanya ingin jadi seorang Dinara yang dengan segenap cinta dan doanya berhasil menjaga hatinya hanya untuk seorang Gana saja.

- Lalu kenapa Aivi membuatku terlihat begitu menyedihkan? Hei, aku tak pernah merugikan siapapun dengan perasaanku itu. Pun aku tak pernah merasa dirugikan sedikitpun oleh cintaku itu. Lagipula, aku yakin Gana tak pernah keberatan dengan keberadaan hatiku yang tak pernahmenjamahnya sedikitpun. Tak pernah pula aku berusaha menyentuh hati Gana. Aku hanya mencintainya dari sudut terindah yang bisa kurasa, dengan tetap membiarkan Gana aman dan nyaman dalam dunianya sendiri. Lalu, apa yang salah? -
Aah, Dinara tidak bisa berpikir terlalu banyak lagi. Hatinya masih ngilu. Mungkin Aivi hanya terlalu sayang padanya. Iya mungkin begitu.

Satu hari, dua hari, tiga hari, beberapa hari berlalu. Hari-hari Dinara berlalu seperti biasa. Tapi, hari-harinya jadi terasa menjemukan sekarang. Entah kenapa. Ia merasa kehilangan sedikit kebebasan untuk merasakan dalam-dalam getaran cintanya pada Gana. Yah, semenjak Aivi melontarkan ‘unek-uneknya’ tentang kegilaannya itu, Dinara merasa sedikitnya ada yang membatasi kebebasannya. Tapi, mungkin saja Aivi benar.
Ia sama sekali tak marah pada sahabatnya itu. Tidak. Sungguh. Ia hanya merasa perlu waktu yang lama – entah seberapa lama – untuk mencerna perkataan Aivi lalukemudian memahaminya. Dinara merasa apa yang dikatakan Aivi memang benar, yakni antara dia dan Gana tak sedikitpun ada hubungan apa-apa, tapi apakah salah jika ia mencintai Gana dengancaranya sendiri? Hanya itu.
To be only yours, I pray, To be only yours… I know now you’re my only hope

Suara merdu Mandy Moore melengking indah dari ponsel Dinara. Nada dering untuk panggilan masuk. Dinara membuka flap ponselnya.
“Di.. hallo.. kau baik-baik saja?”
“Hallo.. assalamualaikum Aivi. Tak biasanya kau menelpon. Ada apa?”
“Eh, waalaikumsalam. Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin tanya, apa kau sudah melupakannya?”
Deg. Apa? Apa yang baru saja Aivi tanyakan? Dinara benar-benar kaget mendengarnya. Sungguh. Taksemudah itu melupakannya, Aivi. Dinara berkata-kata dalam hatinya.Belum sempat ia menjawab, Aivi sudah nyerocos di ujung sana.

“Kau harus melupakannya. Sudah cukup Di. Cinta itu bisa merusakmu, melenakanmu. Kau harus melupakannya. Ah, Ya Alloh. Bagaimana caranya menghentikanmu? Apa sesulit itu? Sungguh. Kumohon lupakan dia. Kau harus memulai semuanya dari awal. Bukalah mata dan hatimu Di. Lupakan dia.”
- Ya Alloh. Kenapa Aivi bersikap seperti itu? Kenapa? Apa dia tak tahu kalau yang ia katakan membuatku sakit. Benar-benar membuatku sakit. Sungguh. Tak semudah itu. -
“Hallo.. Di? Kau masih di sana? Kau baik-baik saja?”
“Mmh. Aku akan mencobanya.” Dinara menjawab sekenanya.
“Bagus. Aku selalu ada untukmu. Sudah ya. Assalamualaikum.”
Tut. Sambungan terputus. Waalaikumsalam. Dinara mendesah pelan. Ia masih memegang ponselnya. Lagi-lagi dia merasa sulit untuk mencerna dan kemudianmemahami apa yang sudah Aivi katakan barusan. Selalu begitu. Logikanya selalu berfungsi lebih lambat dibandingkan perasaannya. Ia hanya bisa meneteskan air mata. Rasa sakit – tentu saja rasa sakit yang diakibatkan oleh perkataan Aivi tempo lalu – yang sudah hampirbisa ia lupakan, kini kembali hinggap di hatinya.

- Ya Alloh.. apa selama ini aku terlihat seperti orang tak waras? Kenapa Aivi bersikeras bersikap seperti itu? Apa dia sudah benar-benar jengah melihat kegilaanku itu? Ya Alloh.. apa yang salah dari semua yang aku rasakan selama ini? Dan apa? Aivi berkata kalau cinta ini bisa merusakku, melenakanku? Tidak. Sama sekali tidak. Cinta ini justru menguatkanku. Mengubahku menjadi lebih baik. Memberiku harapan di setiap hariku. Memberiku nafas untuk tetap bertahan dalam kesendirian. Memberiku semangat dalam menghadapi berbagai masalah hidup. Dan yang terpenting, cinta iniselalu mendekatkanku pada-Mu. YaAlloh.. apa Aivi tak tahu semua itu? Melupakan Gana bukanlah hal yangmudah dan memang bukan hal yang aku inginkan. Tidak sama sekali. -

Pandangan Dinara kabur. Ia bukan hanya meneteskan air mata, tapi menangis sesenggukan. Ia memegang dadanya. Ada yang sakit di sana. Benar-benar sakit. Ia melangkah menuju meja belajarnya. Ia lalu membuka tas yang tergeletak di sana. Direngkuhnya sebuah sapu tangan kotak-kotak biru muda. Ada tulisan kecil di salah satu sudutnya. Gana.

- Apakah aku benar-benar harus melepaskan semua perasaanku padamu? Apakah aku tak boleh lagimencintaimu – meski pastinya kau tak pernah tahu hal itu? Apakah aku harus mengubur dalam-dalam semua harapanku tentangmu? Tapi,aku benar-benar ingin bertemu denganmu. Aku hanya ingin bertemu denganmu. Meski hanya untuk satu kali lagi. Meski hanya untuk beberapa detik saja. Itu tak apa. Sungguh. Aku hanya ingin berterima kasih padamu, Gana. Berterima kasih untuk semuanya. Ya. Aku belum sempat melakukan itu. -

Dinara bergumam lirih sendirian. Didekapnya sapu tangan itu erat-erat. Lalu, pikirannya beralih ke suatu malam, lima tahun silam. Saat ia masih berusia tujuh belas tahun. Saat ketika ia belum seperti sekarang. Saat dimana satu hal berhasil mengubah hidupnya.

Saat itu, Dinara tengah berjalan sendirian ketika seorang om-om mencoba merayunya untuk ikut bersamanya. Bagaimanalah om-om itu tidak bersikap demikian, penampilan Dinara saat itu lebih mirip dengan wanita malam. Ditambah pula ia berjalan sendiriandi kala malam telah sepenuhnya pekat. Mana ada wanita baik-baik keluyuran tengah malam dengan penampilan seperti itu coba?

Dinara mati-matian menolak – karena memang dia toh bukan wanita malam yang dikira om-om itu -, sementara si om-om mati-matian memaksanya. Dinara berteriak meminta tolong. Dan di saat itu, seorang pemuda – yang entah kebetulan lewat atau memang telah sengaja dikirim Tuhan – mendekati Dinara yang sedang berusaha melepaskan diri dari si om-om.

“Tolong lepaskan dia Pak. Dia ini adik saya. Dia wanita baik-baik danbukan wanita seperti yang Bapak kira. Sungguh Pak, dia wanita baik-baik. Hanya saja, dia belum cukup dewasa. Tolong jangan ganggu dia Pak. Bapak akan menyesal jika melakukannya.” Pemuda itu berkata dengan nada memohon pada si om-om. Si om-om yang entah kenapa merasa percaya dengan yang dikatakan pemuda itu langsung melepaskan Dinara. Ia bergegas meninggalkan tempat itu sambil bersungut-sungut, “Urus adikmu itu. Mungkin lain kali ia tak akan selamat jika masih seperti itu.” Pemuda itu hanya mengangguk.

Suasana malam itu begitu sunyi danlengang. Dinara yang merasa shock dengan kejadian itu menangis sesenggukan di tepi jalan. Pemuda itu menghampirinya dan mengeluarkan sehelai sapu tangan dari dalam saku celananya dan mencoba menenangkan. Dia kemudian membawa Dinara ke dalam mobilnya dan mengantarkanDinara pulang. Ia lalu menanyakan alamat gadis itu. Tak berapa lama, mobil pemuda itu sampai di depan sebuah rumah mewah. Rumah Dinara. Mereka berdua lalu turun dari mobil itu.
“Aku bukan wanita seperti itu.” UjarDinara yang masih menangis.

“Om-om tadi atau pria manapun pasti tidak akan berani mengganggumu jika kau tak keluyuran tengah malam begini dan penampilanmu tak seperti itu. Tapi, aku percaya kau wanita baik-baik. Sungguh.” Pemuda itu kembali ke mobilnya. Meninggalkan Dinara yang masih terpaku. Mobilnya melesat menjauhdari hadapan Dinara.

Dinara tersadar. Dia melihat sekeliling dan mendapati ia sendirian disana. Lalu, dia melihat sapu tangan di genggaman tangannya. Sapu tangan kotak-kotak biru muda. Pandangannya tertuju pada tulisan yang dijahit dengan benang hitam di salah satu sudut sapu tangan itu. Gana. Hatinya berdesir halus ketika mengingat pemuda yang baru saja menolongnya itu. Pemuda baik hati yang sama sekali tak dikenalnya.

Sejak saat itu, Dinara berubah. Gayahidupnya, penampilannya, tingkah lakunya, tutur katanya, pemikirannya. Semuanya berubah menjadi lebih baik. Sungguh, kekuatan cinta yang begitu indah. Bertahun-tahun ia selalu berharap suatu saat bisa bertemu kembali dengan pemuda yang telah menyelamatkan hidupnya itu. Ia selalu ingat kalau ia belum sempat berterima kasih pada pemuda itu, hingga saat ini.

To be only yours, I pray, To be only yours… I know now you’re my only hope
Panggilan masuk. Bayangan masa lalu itu kemudian memudar. Dinara menyeka air matanya. Lalu ia membuka flap ponselnya.

“Assalamualaikum Aivi. Kenapa lagi?”
“Waalaikumsalam. Aku lupa memberitahumu Di. Minggu depan, datanglah ke rumahku. Ada syukuran. Oya, aku akan mengenalkanmu pada seseorang. Seseorang yang sangat aku sayangi.Emm kau pasti menyukainya. Ah hati-hati, kau bisa mencintainya. hehe”
“Kenapa?”
“Ya, karena dia memang pantas disukai, dicintai. Sudah ya. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”

Dinara menghela nafas. Akhir-akhir ini ia lebih sering menghela nafas. Entah kenapa. Tiba-tiba ia teringat percakapannya dengan Aivi barusan.

- Mengenalkanku pada seseorang yang sangat ia sayangi? Menyukainya? Mencintainya? Siapa? Syukuran? Ah, iya. Jangan-jangan Aivi akan dilamar. Seseorang yang ia maksud adalah calonnya barangkali. Iya. Begitu sepertinya. Tapi, kenapa dia tak pernah bercerita sebelumnya padaku? Ah, sahabat macam apa aku ini? Aku sama sekali tak tahu apa yang terjadi dalam kehidupan Aivi selama ini. Mungkin, karena aku terlalu sibuk dengan kegilaanku itu. Ya Alloh.. Aivi, maafkan aku. -
Seminggu berlalu begitu cepat. Tapi, bagi Dinara waktu jadi terasa begitu lambat. Itu karena perasaannya sedang begitu tak menentu. Yah, begitulah.

Dinara sudah sampai di depan rumah Aivi. Banyak mobil berjejer disana. Sepertinya, semua keluarga besar Aivi sedang berkumpul untuk acara syukuran itu.

Dinara melangkah masuk ke rumah besar itu. Pandangannya langsung tertuju ke dalam rumah. Banyak orang di dalam sana. Dan, Ya Alloh.. jantung Dinara hampir berhenti berdetak. Nafasnya tiba-tiba sesak. Ia melihat Aivi di sofa ruang tamu. Tapi, perhatiannya bukan tertuju pada sahabatnya itu, melainkan pemuda tampan di samping Aivi. Pemuda itu, Dinara yakin pernah melihatnya. Ya, bagaimana mungkin ia lupa? Tapi, kenapa pemuda itu ada di sini? Dan.. dan.. pemuda itu terlihat begitu dekat dengan Aivi. Apa mungkin? Dinara tiba-tiba langsung memegang dadanya. Ada yang menggerogoti hatinya lagi. Dan kali ini lebih sakit dari sebelumnya.

- Bagaimana mungkin seperti ini Ya Alloh? Kenapa harus Aivi? Kenapa Aivi harus bersama Gana? Dan, mereka terlihat benar-benar akrab. Mereka sedang bercanda. Aivi tersenyum, tertawa. Itu sempurna ekspresi bahagia dari Aivi. Bagaimana mungkin? Ya Alloh. -

Dinara masih mematung di depan pintu. Kakinya lumpuh seketika. Matanya perih. Sungguh perih. Tapi, bagaimanalah ia akan menangis di saat seperti itu? Beribu pertanyaan menyesaki benaknya satu per satu.
- Apakah ada yang pernah merasakan ketika senyuman orang lain nyatanya justru membawa lukadi hati kita? Aku pernah. Apakah ada yang pernah merasakan ketika tawa orang lain tak sadar justru membuat air mata kita terjatuh? Aku pernah. Apakah ada yang pernah merasakan ketika kebahagiaan orang lain sebenarnyatidak – sama sekali tidak-membuat hati kita bahagia juga? Aku pernah. Ya. Aku pernah merasakan itu semua. Di sini. Saat ini. Entah perasaan macam apa namanya. Yang jelas, ini sungguh menyakitkan. -

“Dinara.. kau sudah datang? Ayo sini.” Suara Aivi tiba-tiba menyadarkan Dinara yang sedang terpaku. Aivi menghampiri Dinara dan membawanya masuk. Entah kenapa, Dinara merasa sulit untuk melangkahkan kakinya. Dengan enggan akhirnya ia menapakkan kakinya selangkah demi selangkah.Mereka lalu duduk tepat di hadapan pemuda itu. Pemuda itu tersenyum manis pada Dinara. Hati Dinara semakin ngilu.
“Bagaimana, kau menyukainya bukan?” ujar Aivi sambil menepuk pundak Dinara. Dinara tak berani menjawabnya. Andai saja Aivi tahu, pemuda itu adalah pangeran hati Dinara selama lima tahun ini.
“Bagaimana, kau menyukainya bukan?” Aivi melontarkan kembali pertanyaan yang sama. Namun, kali ini bukan pada Dinara. Melainkan pada pemuda di hadapannya. Pemuda itu hanya tersenyum. Wajahnya memerah. Dinara masih tak mengerti.

“Namanya Rida Lenggana. Dia saudara sepupuku. Ah, kau pasti takingat? Ya, mana mungkin. Selama ini kau sibuk dengan Gana mu itu. Bukankah aku pernah menceritakannya padamu beberapa kali? Rida, saudara sepupuku yang sejak lima tahun lalu kuliah di Turki dan sudah punyapekerjaan tetap di sana. Ya ampun Di, kau benar-benar tak pernah mendengarkan ceritaku sepertinya.”

Seperti biasa, Aivi nyerocos tanpa memperhatikan respon si pendengar. Sementara itu, Dinara merasa tak percaya dengan apa yang didengarnya. Dia masih juga tak bersuara.
- Sepupu? Bukan calon suami? Ya ampun, kenapa aku begitu cepat menyimpulkan? -

“Kau tahu Di? Aku sangat menyayanginya. Dia lelaki baik dan pantas mendapatkan yang baik pula. Dulu dia pernah menyukai seorang wanita yang ditemuinya suatu malam di jalan kota. Dia bilang dia tak bisa melupakan gadisitu. Tapi, untunglah Rida tak sepertimu yang sulit sekali melupakan Gana. Dia langsung menyukaimu ketika pertama kali aku menunjukkan fotomu empat tahun lalu. Dia semakin menyukaimu sewaktu aku berceritabanyak tentang kau. Setiap kami berkomunikasi, dia selalu menanyakan kabarmu dan memintaku bercerita tentangmu, semua hal tentangmu. Tapi, dia melarangku memberitahumu. Dia ingin agar kau tetap seperti itu, menggilai Gana. Dia tak ingin mengusik kegilaanmu itu katanya. Tapi sewaktu dia pulang dari Turki minggu lalu, dia akhirnya memintaku untuk mengenalkanmu langsung padanya. Karena itu aku bersikeras menginginkankau melupakan Gana. Aku pikir, kau pasti akan menyukai sepupuku ini. Kalian sangat cocok.”

Dinara masih diam. Tapi, kali ini rasa sakitnya berangsur hilang. Tergantikan oleh perasaan yang entah apa namanya. Bahagia, terharu dan apalah itu. Yang ia pikirkan hanyalah bagaimana mungkin ini terjadi? Sementara itu, pemuda di hadapannya bersemu merah.

“Aku suka nama Gana. Aku ingin dipanggil begitu. Sungguh. Ah, tapi tak ada yang tahu hal itu. Semua orang malah memanggilku Rida.” Pemuda itu terdiam sesaat. Lalu dengan terbata ia melanjutkan. “Emm.. Apa.. apa kau mau ikut bersamaku ke Turki? Tentunya, setelah kita menikah di sini.” Pemuda bernama Rida Lenggana itubaru saja mengucapkan kata-kata yang sudah lama ingin ia sampaikan pada gadis dihadapannya. Gadis yang sudah ia sukai sejak pertama kali bertemu lima tahun lalu di suatu malam ketika ia menikmati malam terakhir di kota kelahirannya sebelum ia berangkat ke Turki. Perasaan lega, cemas dan bahagia bercampur aduk di hatinya.

Dinara tak kuasa menahan air matanya terjatuh kali ini. Biarlah semua orang melihat ia menangis saat ini. Karena toh selama ini tak ada yang tahu bagaimana ia menangis dalam kesendiriannya, bagaimana ia menangis menahan semua perasaannya, bagaimana ia menangis di setiap harapan yang ia panjatkan dalam doa-doanya. Biarlah.

Dinara mengeluarkan sapu tangan kotak-kotak biru muda bertuliskan nama Gana – yang selalu ia bawa kemanapun – dari tas tangannya. Sambil mengangguk ia berikan sapu tangan itu pada pemiliknya. “Terima kasih, untuk semuanya.” Ujarnya lirih sambil berurai air mata. Pemuda itu tersenyum saat menerima kembali sapu tangan miliknya.

Aivi melongo melihat pemandangan di hadapannya. “Ya ampun, jadi selama ini?”

Dan ketika harapan yang kita panjatkan dalam setiap doa-doa kita tak langsung dijawab-Nya dengan kata Ya atau Tidak, maka sesungguhnya Ia menjawab, “Tunggu, Aku akan berikan yang terbaik untukmu pada waktunya.”

Wanita yang Baik Hanya Untuk Laki-Laki yang Baik


“Tidak!” aku benar-benar tidak mampu menatapnya, mata bening dan tatapan tajam itu selalu membuatku ciut, berkali aku mencobanya tapi entahlah, seperti ada cahaya yang begitu menyilaukan saat aku memberanikan diri menatap wajahnya.

“Kakak kenapa?” sudah kuduga pertanyaan yang terkesan polos dan tanpa rasa bersalah itu menghujaniku. Memangnya dia salah apa Rafa?

“hmm, gak,” jawabku asal, sembari berusaha menata perasaanku. “sebentar ada presentasi di depan kelas, jadi agak sedikit tegang.” Bohong banget.

“ya udah Kakak duluan aja, aku singgah ke perpus dulu. Good luck Kak!” sembari beranjak meninggalkanku yang diam mematung.

Rafa menghela napas panjang, kesal! Dengan langkah gontai ia segera menuju ruang kuliahnya, menghempaskan tubuhnya di deretan kursi kedua dari depan, matanya menerawang kemudian menghela napas lagi. Tom yang duduk di sampingnya hanya menggeleng.

Alfiana Rahman, nama itu selalu terngiang di telingaku sejak bertemu dengannya sekitar dua bulan yang lalu. Ia gadis yang ramah, cerdas, polos dan banyak bertanya, itulah yang membuatku merasa menjadi manusia paling pintar di dunia saat aku berada di depannya padahal kenyataannya terbalik. Dan satu lagi dia adalah gadis saleha.

Aku mengenalnya dari Rania, mereka bersahabat. Sementara Rania adalah salah satu dari sekian banyak wanita yang aku beri harapan, aku menyayanginya, dia pun begitu. Tapi hubungan kami sama sekali tidak jelas, sejenis hubungan tanpa status.

Fiana, begitu ia sering dipanggil. Mendaftar di salah satu perguruan tinggi terkemuka dengan mengikuti program beasiswa. Rania memintaku menjadi pembimbing yang akan siap menjawab jika Fiana bertanya atau menemui kesulitan dan itu kulakukan dengan baik, karena Fiana pun sangat gemar bertanya. Sementara aku selalu memberinya jawaban yang sok spektakuler aku muak sendiri.

Saat semua urusan telah selesai, aku merasa mulai merindukannya, merindukan saat ia mengirimiku pesan berisi pertanyaan-pertanyaannya, rindu saat ia mengadukan kesulitannya dan aku merindukan pikiran-pikiran cerdasnya.

Karena rindu yang mengganggu ini, aku segera mengirimi ia pesan dan memintanya untuk menjadi temanku. Fiana menyambutnya dengan senang hati aku bahagia. Lalu aku mengajaknya bertemu berdua, yah hanya aku dan Fiana. Tapi justru karena itulah ia menolak. Ah, Rafa seharusnya aku sudah bisa menduganya.
Semakin hari hatiku semakin terusik oleh sosok Fiana, cinta ini semakin bergejolak, bahkan aku telah pandai merangkai kata-kata indah bak seorang penyair ulung, ah.. cinta, dasar cinta.

“plak!” aku tersentak kaget, lamunanku buyar oleh suara pukulan keras di atas meja.
“saudara Rafa El-ghifari silahkan baca diktat kuliah yang ada di depan anda dan maju untuk menggantikan presentasi saya!” suara itu menggema di setiap tembok-tembok ruangan dan memantul menikamku.
Dengan segan kuraih diktat yang ada di depanku disertai kebingungan, yang mana? halaman berapa?
“saudara Rafa, cepatlah sedikit!” suara dosen sialan itu kembali menggema.

“sial!” makiku dalam hati. Aku melangkah gontai, sementara Tom hanya cekikikan, awas kau Tom, kubalas nanti!

Aku memulai presentasi terburuk seumur hidupku dengan gugup, tak jelas jurusannya dan berakhir dengan sebuah peringatan, nilai ujian elektroku akan dapat C. Argh… kalau terus-terusan seperti ini bisa-bisa kuliahku berantakan.

Rafa melangkah tergesa menuju ruang kuliah Fiana, membiarkan Tom mengejarnya dengan susah payah.
“Rafa, lo dikejar tukang tagih utang?” Tom bertanya diselingi napasnya yang tersengal-sengal.
“gak usah banyak tanya deh Tom. Kalau lo mau ikut, ikut aja. Kalau gak ya udah tunggu di sini.” Jawabnya acuh dan mempercepat langkahnya meninggalkan Tom.

Rafa sampai di depan pintu kelas Fiana, menunggu gadis itu keluar dengan gelisah, ah Fiana kepolosanmu telah membuat hati seorang pria jadi tak menentu.

“Kak Rafa?” suara itu membuyarkan lamunanku, aku menoleh, dia tersenyum padaku. Oh Tuhan, bulan sabit yang indah. Gumamku.
“gimana presentasinya Kak?”
“hufh.. mengecewakan! aku gak bisa konsentrasi.” Ah, Fiana di saat seperti ini dia masih menanyakan presentasi yang sebenarnya tak pernah direncanakan itu, tahukah dia perasaanku?
“loh kok bisa? tumben?” mata bening itu menangkap kejanggalan.
“hufh.. karena.. karena kamu Fiana, kakak gak bisa konsentrasi karena terus memikirkanmu.” Mata cokelatnya menatap tajam, dahinya berkerut.
“Kakak mencintaimu Fiana, kakak merindukamu setiap saat, karena itu aku tidak bisa memikirkan yang lain selain kamu.” Kata-kata itu meluncur semulus jalan tol.
“lalu Kakak menyalahkanku?” ya ampun Fiana, bukan itu maksudku, susah juga menghadapi gadis sepolos ini. Batinku.
“tidak! Sama sekali Kakak tidak menyalahkanmu Fiana.” Jawabku tegas.
“lalu?” mata beningnya masih menyimpan tanya.
“kakak hanya ingin kepastian, apakah Fiana juga merasakan hal yang sama seperti yang kakak rasakan, apakah kamu bersedia menjadi milik kakak, apakah kamu bersedia membalas cinta kakak Fiana?” bimbang, oh Fiana mengertilah!
“aku pengen tanya Kak.”
“silahkan.”
“apa Tuhan itu Adil?”
“tentu saja,” jawabku bingung, kenapa Fiana bertanya seperti itu, apa dia ingin mengalihkan pembicaraan lagi.

“jika benar begitu, apakah Tuhan adil jika Ia membiarkan seorang gadis yang hati, jiwa dan pikirannya belum tersentuh oleh laki-laki manapun yang cintanya masih murni harus dimiliki oleh laki-laki yang hati, jiwa dan pikirannya senantiasa disibukkan oleh wanita, yang selalu menebar pesona dan harapan-harapan kosong kepada setiap wanita yang ia temui? adilkah itu Kak?” kata-kata itu mengalir deras bak sungai Eufrat, menghanyutkan semua yang ada di hadapannya, membasahi hati-hati yang kering karena kemarau panjang.
Hanya tetesan bening di pelupuk mataku yang mampu menjawabnya. Oh.. Tuhan, mata bening itu dan pertanyaannya yang terkesan lugu tapi sungguh ia lebih tajam dari anak panah, tepat menikam ulu hatiku.
Aku sadar betapa bejatnya aku, menebar pesona kepada setiap gadis yang kutemui dan memberi mereka harapan, perhatian dan rasa sayang yang sama, aku telah banyak menyakiti hati mereka yang rapuh. Laki-laki bejat sepertiku berani-beraninya mengharapkan Fiana yang bagai mutiara sedangkan aku hanya sebutir pasir. Tega sekali jika aku mengotori cinta Fiana.

Ahh, aku ingat ucapan Ustad yang pernah membawakan khutbah nikah di kampungku dulu. Wanita yang baik hanya untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik hanya untuk wanita yang baik pula.
Mata bening itu masih menatapku, kini tampak teduh.

“kita masih berteman Kak,” Tersenyum seakan tak pernah terjadi apa-apa.
Oh Fiana.. kau akan mendapatkan keadilan itu. Pasti adikku.
Cerpen Karangan: Fatmailia Atha Azzahra

Muhammad al-Fatih, Penakluk Konstantinopel


Muhammad al-Fatih adalah salah seorang raja atau sultan Kerajaan Utsmani yang paling terkenal. Ia merupakan sultan ketujuh dalam sejarah Bani Utsmaniah. Al-Fatih adalah gelar yang senantiasa melekat pada namanya karena dialah yang mengakhiri atau menaklukkan Kerajaan Romawi Timur yang telah berkuasa selama 11 abad.

Sultan Muhammad al-Fatih memerintah selama 30 tahun. Selain menaklukkan Binzantium, ia juga berhasil menaklukkan wilayah-wilayah di Asia, menyatukan kerajaan-kerajaan Anatolia dan wilayah-wilayah Eropa, dan termasuk jasanya yang paling penting adalah berhasil mengadaptasi menajemen Kerajaan Bizantium yang telah matang ke dalam Kerajaan Utsmani.

Karakter Pemimpin Yang Ditanamkan Sejak Kecil

Muhammad al-Fatih dilahirkan pada 27 Rajab 835 H/30 Maret 1432 M di Kota Erdine, ibu kota Daulah Utsmaniyah saat itu. Ia adalah putra dari Sultan Murad II yang merupakan raja keenam Daulah Utsmaniyah.
Sultan Murad II memiliki perhatian yang besar terhadap pendidikan anaknya. Ia menempa buah hatinya agar kelak menjadi seorang pemimpin yang baik dan tangguh. Perhatian tersebut terlihat dari Muhammad kecil yang telah menyelesaikan hafalan Alquran 30 juz, mempelajari hadis-hadis, memahami ilmu fikih, belajar matematika, ilmu falak, dan strategi perang. Selain itu, Muhammad juga mempelajari berbagai bahasa, seperti: bahasa Arab, Persia, Latin, dan Yunani. Tidak heran, pada usia 21 tahun Muhammad sangat lancar berbahasa Arab, Turki, Persia, Ibrani, Latin, dan Yunani, luar biasa!

Walaupun usianya baru seumur jagung, sang ayah, Sultan Murad II, mengamanati Sultan Muhammad memimpin suatu daerah dengan bimbingan para ulama. Hal itu dilakukan sang ayah agar anaknya cepat menyadari bahwa dia memiliki tanggung jawab yang besar di kemudian hari. Bimbingan para ulama diharapkan menjadi kompas yang mengarahkan pemikiran anaknya agar sejalan dengan pemahaman Islam yang benar.

Menjadi Penguasa Utsmani

Sultan Muhammad II diangkat menjadi Khalifah Utsmaniyah pada tanggal 5 Muharam 855 H bersamaan dengan 7 Febuari 1451 M. Program besar yang langsung ia canangkan ketika menjabat sebagai khalifah adalah menaklukkan Konstantinopel.
Langkah pertama yang Sultan Muhammad lakukan untuk mewujudkan cita-citanya adalah melakukan kebijakan militer dan politik luar negeri yang strategis. Ia memperbarui perjanjian dan kesepakatan yang telah terjalin dengan negara-negara tetangga dan sekutu-sekutu militernya. Pengaturan ulang perjanjian tersebut bertujuan menghilangkan pengaruh Kerajaan Bizantium Romawi di wilayah-wilayah tetangga Utsmaniah baik secara politis maupun militer.

Menaklukkan Bizantium

Sultan Muhammad II juga menyiapkan lebih dari 4 juta prajurit yang akan mengepung Konstantinopel dari darat. Pada saat mengepung benteng Bizantium banyak pasukan Utsmani yang gugur karena kuatnya pertahanan benteng tersebut. Pengepungan yang berlangsung tidak kurang dari 50 hari itu, benar-benar menguji kesabaran pasukan Utsmani, menguras tenaga, pikiran, dan perbekalan mereka.

Pertahanan yang tangguh dari kerajaan besar Romawi ini terlihat sejak mula. Sebelum musuh mencapai benteng mereka, Bizantium telah memagari laut mereka dengan rantai yang membentang di semenanjung Tanduk Emas. Tidak mungkin bisa menyentuh benteng Bizantium kecuali dengan melintasi rantai tersebut.
Akhirnya Sultan Muhammad menemukan ide yang ia anggap merupakan satu-satunya cara agar bisa melewati pagar tersebut. Ide ini mirip dengan yang dilakukan oleh para pangeran Kiev yang menyerang Bizantium di abad ke-10, para pangeran Kiev menarik kapalnya keluar Selat Bosporus, mengelilingi Galata, dan meluncurkannya kembali di Tanduk Emas, akan tetapi pasukan mereka tetap dikalahkan oleh orang-orang Bizantium Romawi. Sultan Muhammad melakukannya dengan cara yang lebih cerdik lagi, ia menggandeng 70 kapalnya melintasi Galata ke muara setelah meminyaki batang-batang kayu. Hal itu dilakukan dalam waktu yang sangat singkat, tidak sampai satu malam.

Di pagi hari, Bizantium kaget bukan kepalang, mereka sama sekali tidak mengira Sultan Muhammad dan pasukannya menyeberangkan kapal-kapal mereka lewat jalur darat. 70 kapal laut diseberangkan lewat jalur darat yang masih ditumbuhi pohon-pohon besar, menebangi pohon-pohonnya dan menyeberangkan kapal-kapal dalam waktu satu malam adalah suatu kemustahilan menurut mereka, akan tetapi itulah yang terjadi.
Peperangan dahsyat pun terjadi, benteng yang tak tersentuh sebagai simbol kekuatan Bizantium itu akhirnya diserang oleh orang-orang yang tidak takut akan kematian. Akhirnya kerajaan besar yang berumur 11 abad itu jatuh ke tangan kaum muslimin. Peperangan besar itu mengakibatkan 265.000 pasukan umat Islam gugur. Pada tanggal 20 Jumadil Awal 857 H bersamaan dengan 29 Mei 1453 M, Sultan al-Ghazi Muhammad berhasil memasuki Kota Konstantinopel. Sejak saat itulah ia dikenal dengan nama Sultan Muhammad al-Fatih, penakluk Konstantinopel.

Saat memasuki Konstantinopel, Sultan Muhammad al-Fatih turun dari kudanya lalu sujud sebagai tanda syukur kepada Allah. Setelah itu, ia menuju Gereja Hagia Sophia dan memerintahkan menggantinya menjadi masjid. Konstantinopel dijadikan sebagai ibu kota, pusat pemerintah Kerajaan Utsmani dan kota ini diganti namanya menjadi Islambul yang berarti negeri Islam, lau akhirnya mengalami perubahan menjadi Istanbul.
Selain itu, Sultan Muhammad al-Fatih juga memerintahkan untuk membangun masjid di makam sahabat yang mulia Abu Ayyub al-Anshari radhiallahu ‘anhu, salah seorang sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang wafat saat menyerang Konstantinopel di zaman Khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan radhiallahu ‘anhu.

Apa yang dilakukan oleh Sultan Muhammad tentu saja bertentangan dengan syariat, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَلاَ وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوْا يَتَّخِذُوْنَ قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيْهِمْ مَسَاجِدَ، أَلاَ فَلاَ تَتَّخِذُوا الْقُبُوْرَ مَسَاجِدَ، إِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ.

“… Ketahuilah, bahwa sesungguhnya umat-umat sebelum kamu telah menjadikan kuburan Nabi-Nabi mereka sebagai tempat ibadah, tetapi janganlah kamu sekalian menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah, karena aku benar-benar melarang kamu melakukan perbuatan itu.” (HR. HR. Muslim no.532)

Kekeliruan yang dilakukan oleh Sultan Muhammad tidak serta-merta membuat kita menafikan jasa-jasanya yang sangat besar. Semoga Allah mengampuni kesalahan dan kekhilafannya beliau rahimahullah.
Setelah itu rentetat penaklukkan strategis dilakukan oleh Sultan Muhammad al-Fatih; ia membawa pasukannya menkalukkan Balkan, Yunani, Rumania, Albania, Asia Kecil, dll. bahkan ia telah mempersiapkan pasukan dan mengatur strategi untuk menaklukkan kerajaan Romawi di Italia, akan tetapi kematian telah menghalanginya untuk mewujudkan hal itu.

Peradaban Yang Dibangun Pada Masanya

Selain terkenal sebagai jenderal perang dan berhasil memperluas kekuasaan Utsmani melebihi sultan-sultan lainnya, Muhammad al-Fatih juga dikenal sebagai seorang penyair. Ia memiliki diwan, kumpulan syair yang ia buat sendiri.

Sultan Muhammad juga membangun lebih dari 300 masjid, 57 sekolah, dan 59 tempat pemandian di berbagai wilayah Utsmani. Peninggalannya yang paling terkenal adalah Masjid Sultan Muhammad II dan Jami’ Abu Ayyub al-Anshari

Wafatnya Sang Penakluk 

Pada bulan Rabiul Awal tahun 886 H/1481 M, Sultan Muhammad al-Fatih pergi dari Istanbul untuk berjihad, padahal ia sedang dalam kondisi tidak sehat. Di tengah perjalanan sakit yang ia derita kian parah dan semakin berat ia rasakan. Dokter pun didatangkan untuk mengobatinya, namun dokter dan obat tidak lagi bermanfaat bagi sang Sultan, ia pun wafat di tengah pasukannya pada hari Kamis, tanggal 4 Rabiul Awal 886 H/3 Mei 1481 M. Saat itu Sultan Muhammad berusia 52 tahun dan memerintah selama 31 tahun. Ada yang mengatakan wafatnya Sultan Muhammad al-Fatih karena diracuni oleh dokter pribadinya Ya’qub Basya, Allahu a’lam.

Tidak ada keterangan yang bisa dijadikan sandaran kemana Sultan Muhammad II hendak membawa pasukannya. Ada yang mengatakan beliau hendak menuju Itali untuk menaklukkan Roma ada juga yang mengatakan menuju Prancis atau Spanyol.

Sebelum wafat, Muhammad al-Fatih mewasiatkan kepada putra dan penerus tahtanya, Sultan Bayazid II agar senantiasa dekat dengan para ulama, berbuat adil, tidak tertipu dengan harta, dan benar-benar menjaga agama baik untuk pribadi, masyarakat, dan kerajaan.

Semoga Allah membalas jasa-jasamu wahai Sultan Muhammad al-Fatih…
Sumber: islamstory.com

Nasihat al-Hasan al-Bashri Kepada Umar bin Abdul Aziz


Berikut ini adalah nasihat al-Hasan al-Bashri kepada Umar bin Abdul Aziz, salah seorang khalifah yang shaleh dari Bani Umayyah. Al-Hasan menasihati beliau tentang hakikat dunia, karena bisa jadi seseorang yang shaleh pun tergelicir ketika memegang kekuasaan tertinggi dan dia membutuhkan nasihat yang mengingatkannya. Apalagi jabatan yang dipegang oleh Umar adalah jabatan yang sangat besar, karena ia adalah salah satu raja yang memegang wilayah terbesar di dunia. Godaan, ambisi, fitnah dunia, dan keinginan untuk menikmatinya bisa saja muncul kala itu.

Al-Hasan al-Bashri menulis surat kepada Umar bin Abdul Aziz, isi surat tersebut menjelaskan tentang hakikat dunia. Teks surat tersebut adalah sebagai berikut:
Amma ba’du.. Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya dunia adalah rumah persinggahan dan perpindahan bukan rumah tinggal selamanya.

Adam diturunkan ke dunia dari surga sebagai hukuman atasnya, maka berhati-hatilah. Sesungguhnya orang yang berhasrat kepada dunia akan meninggalkannya, orang yang kaya di dunia adalah orang yang miskin (dibanding akhirat), penduduk dunia yang berbahagia adalah orang yang tidak berlebih-lebihan di dalamnya. Jika orang yang berakal lagi cerdik mencermatinya, maka dia melihatnya menghinakan orang yang memuliakannya, mencerai-beraikan orang yang mengumpulkannya. Dunia layaknya racun, siapa yang tidak mengetahuinya akan memakannya, siapa yang tidak mengetahuinya akan berambisi kepadanya, padahal, demi Allah itulah letak kebinasaannya.

Wahai Amirul Mukminin, jadilah seperti orang yang tengah mengobati lukanya, dia menahan pedih sesaat karena dia tidak ingin memikul penderitaan panjang. Bersabar di atas penderitaan dunia lebih ringan daripada memikul ujiannya. Orang yang cerdas adalah orang yang berhati-hati terhadap godaan dunia. Dunia seperti pengantin, mata-mata melihat kepadanya, hati terjerat dengannya, pada dia, demi Dzat yang mengutus Muhammad dengan kebenaran, adalah pembunuh bagi siapa yang menikahinya.

Wahai Amirul Mukminin, berhati-hatilah terhadap perangkap kebinasaannya, waspadailah keburukannya. Kemakmurannya bersambung dengan kesengsaraan dan penderitaan, kelanggengan membawa kepada kebinasaan dan kefanaan. Ketahuilah wahai Amirul Mukminin, bahwa angan-angannya palsu, harapannya batil, kejernihannya keruh, kehidupannya penderitaan, orang yang meninggalkannya adalah orang yang dibimbing taufik, dan orang yang berpegang padanya adalaah celaka lago tenggelam. Orang yang cerdik lagi pandai adalah orang yang takut kepada apa yang dijadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menimbulkan rasa takut, mewaspadai apa yang Allah telah peringatkan, berlari meninggalkan rumah fana kepada rumah yang abadi, keyakinan ini akan sangat terasa ketika kematian menjelang.

Dunia wahai Amirul Mukminin, adalah rumah hukuman, siapa yag tidak berakal mengumpulkan untuknya, siapa yang tidak berilmu tentangnya akan terkecoh, sementara orang yang tegas lagi berakal adalah orang yang hidup di dunia seperti orang yang mengobati sakitnya, dia menahan diri dari pahitnya obat karena dia berharap kesembuhan, dia takut kepada buruknya akibat di akhirat.

Dunia wahai Amirul Mukminin, demi Allah hanya mimpi, sedangkan akhirat adalah nyata, di antara keduanya adalah kematian. Para hamba berada dalam mimpi yang melenakan, sesungguhnya aku berkata kepadamu wahai Amirul Mukminin apa yang dikatakan oleh seorang laki-laki bijak,
‘Jika kamu selamat, maka kamu selamat dari huru-hara besar itu. Jika tidak, maka aku tidak mengira dirimu akan selamat’.

Ketika surat al-Hasan al-Bashri ini sampai ke tangan Umar bin Abdul Aziz, beliau menangis sesenggukan sehingga orang-orang yang ada di sekitarnya merasa kasihan kepadanya. Umar mengatakan, “Semoga Allah merahmati al-Hasan al-Bashri, beliau terus membangunkan kami dari tidur dan mengingatkan kami dari kelalaian. Sungguh sangat mengagumkan, beliau adalah laki-laki yang penuh kasih terhadap kami (pemimpin), beliau begitu tulus kepada kami. Beliau adalah seorang pemberi nasihat yang sangat jujur dan sangat fasih bahasanya.”

Umar bin Abdul Aziz membalas surat al-Hasan dengan mengatakan:
“Nasihat-nasihat Anda yang berharga telah sampai kepadaku, aku pun mengobati diriku dengan nasihat tersebut. Anda menjelaskan dunia dengan sifat-sifatnya yang hakiki, orang yang pintar adalah orang yang selalu berhati-hati terhadap dunia, seolah-olah penduduknya yang telah ditetapkan kematian sudah mati. Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.”

Ketika balasan Umar sampai di tangan al-Hasan, beliau berkata, “Amirul Mukminin benar-benar mengagumkan, seorang laki-laki yang berkata benar dan menerima nasihat. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengagungkan nikmat dengan kepemimpinannya, merahmati umat dengan kekuasaannya, menjadikannya rahmat dan berkah.”

Al-Hasan al-Bashri menulis sedikit lagi pesan kepada Umar bin Abdul Aziz dengan mengatakan:
“Amma ba’du, sesungguhnya ketakutan besar dan perkara yang dicari ada di depanmu, dan engkau pasti akan menyaksikannya, selamat atau celak.” (Az-Zuhd, al-Hasan al-Bashri, Hal.169).

Sumber: Perjalanan Hidup Khalifah Yang Agung, Umar bin Abdul Aziz, Ulama dan Pemimpin Yang Adil ditulis oleh DR. Ali Muhammad ash-Shalabi. Diterbitkan oleh Darul Haq.

9 Rahasia Sukses Para Pebisnis Online

 
ENTREPRENEURSHIP - Bicara tentang bisnis online memang tidak akan ada habisnya. Setiap hari ada saja strategi baru dan perkembangan teknologi yang harus terus kita ikuti. Beberapa pebisnis online berikut ini akan memberikan kamu inspirasi dan wawasan, tentang apa saja yang membuat mereka sukses mengembangkan bisnis onlinenya. Dan kamu juga bisa melakukan ini:

1. Soal konversi keinginan customer jadi keuntungan, Fadli Ramon Jagonya
Dari yang awalnya hanya hobi, kemudian berlanjut menjual produk headphone di Kaskus dan sosial media, kini Fadli Ramon sukses mengembangkan bisnis onlinenya. Salah satu faktor yang membuatnya bisa sampai di sini adalah kepekaannya mendengarkan masukan dan kritik dari pelanggan.
Dan salah satu yang sangat membantunya mereview headphone yang diimport langsung dari luar negeri adalah teman – teman di komunitas yang ia ikuti, yaitu Kere Hore. Berbekal relasi yang sudah banyak, ia memberanikan diri untuk meminta anggota Kere Hore untuk mencoba dan menguji headphone miliknya.
Ia juga menggunakan review dari pelanggan tentang produk – produk yang ia jual. Ini membuatnya terus tahu apa yang dibutuhkan dan diinginkan pelanggan dari produk headphoneku miliknya.

2. Menurut Batikbolags.com, kualitas berbanding lurus dengan keuntungan

Meskipun terlihat biasa saja, namun Gunadi Sinatrio membuat baju batik yang unik dan berbeda dari yang lain. Ia berhasil menggabungkan kebudayaan Indonesia dengan kegemaran rakyat Indonesia terhadap sepak bola dunia. Batik Bola adalah nama yang memang unik dan berbeda. Ia membuat desain pakaian batik dengan tambahan logo beberapa klub sepak bola dunia, seperti manchester United.
Karena produk yang ia jual adalah produk modifikasi, ia selalu memperhatikan setiap produk batik bolanya. Mulai dari desain, bahan baku hingga kualitas cetakan dan penjahitan baju. Baginya kualitas sangat berpengaruh terhadap harga jual di pasaran. Apalagi produk batik bola ini cukup baru di telinga masyarakat. Jika tidak pandai menjaga kualitas, bisa – bisa pasar tidak menerima produk variasi ini lagi.

3. Nyeleneh dan berani membuat konsep baru, buat Kaosamal.com sukses

Kalau hanya menjual kaos siapa saja bisa, tapi tidak banyak orang yang bisa memanfaatkan peluang bisnis ini menjadi sesuatu yang berbeda. Lain lagi dengan Monika, yang mau menjalankan bisnis kaosamal.com ini. Ia menggabungkan bisnis kaos dengan upaya berbagi kepada sesama.
Salah satu yang juga membedakan konsep kaos amalnya dengan yang lain adalah adanya unsur dakwah di setiap desain kaos yang ia jual. Dari sini ia berani memasarkan Kaosamalnya secara online.

4. Ketinggalan zaman bukan pilihan bagi Eling Dwi Prastiwi

Bukan hanya teknologi saja yang harus diupdate, produk yang dijual juga harus selalu update. Menjual produk fashion atau mainan anak – anakpun harus selalu update. Karena jika tidak, bisa – bisa toko online kita ditinggal pelanggan karena ketinggalan zaman.
Seperti yang dilakukan oleh Eling Dwi Prastiwi, owner butikperhiasan.com yang menganggap bahwa update model perhiasan terbaru adalah sebuah kebutuhan yang harus selalu dipenuhi. Lain halnya dengan David Budiono yang selalu mengganti produk best seller sesuai dengan trend yang ada di masyarakat saat ini. Dari sini mereka terus memberikan produk yang benar – benar dibutuhkan dan dicari oleh pelanggan.

5. Gaya tetap harus nomor satu, ini kemasan sukses dari GPDistro.com

Gak banyak orang yang peduli dengan penampilan dan kualitas akses website toko onlinenya. Padahal ini adalah komponen penting untuk kesuksesan bisnis online. Lain lagi dengan yang dilakukan Andriyanto, pemilik GPDistro. Ia selalu memperhatikan penampilan website dari awal GPDistro.comdibangun.
“Bagi saya, KEMASAN itu penting!! Oleh sebab itu saya menonjolkan desain website yang menarik, mudah diakses dan saya memajang foto produk dengan lebih jelas di website dibanding milik pesaing”
Begitulah kata Andriyanto. Baginya nilai sebuah toko online akan muncul saat pengunjung senang dengan website yang ada.

6. Jangan takut menjamin tukar barang, ini pesan dari Faziostore.com

Beberapa orang mungkin ragu atau bahkan takut untuk berbelanja online. Alasan mereka rata – rata karena produk atau barang yang dijual tidak bisa dilihat secara langsung. Jadi saat ada masalah dengan barang, konsumen tidak bisa menukarnya secara langsung. Inilah yang membuat sebagian besar orang memilih untuk tidak berbelanja online.
Apalagi saat pebisnis online tidak memberikan keyakinan kepada pelanggan mereka ketika diragukan keaslian atau keadaan dari produk yang dijual. Sebagian besar toko online tidak mau memberikan jaminan saat terjadi masalah dengan produk yang mereka jual. Tapi tidak dengan Juwadi Harjo pemilik dari Faziostore.com yang mau untuk memberikan jaminan uang kembali kepada pelanggan mereka.
“Untuk mensiasati kepercayaan mereka terhadap barang yang kami jual, kami memberikan penjelasan yang baik kepada pelanggan. Kamipun berani memberikan jaminan tukar untuk produk yang tidak sesuai dengan apa yang dipesan oleh pelanggan, dengan sayarat dan ketentuan yang ada di toko kami” 
Itu yang ia katakan. Baginya kepercayaan pelanggan adalah segalanya, apalagi untuk bisnis online yang tidak mudah mendapat pelanggan yang percaya dengan produk dan layanan yang diberikan.

7. Seperti Brandedbatam.com, jangan pelit bagi ilmu, ataupun sharing dengan customer

Jika ada yang bilang bisnis online itu sulit mendapatkan relasi bisnis, maka kamu salah. Karena bisnis online sekalipun tidak bertemu dengan orang secara langsung bisa dapat relasi yang gak kalah banyak dengan bisnis biasanya. Seperti yang dilakukan Brandedbatam.com. 
“Kami membuka sebesar-besarnya ruang komunikasi bagi customer. Salah satunya melalui Fitur Real Time Chat. Fitur ini sangat penting menurut kami saat ini sebab customer bisa langsung menghubungi kita dan menyampaikan apa yang menjadi kebutuhan mereka”, kata Afriz Taufiq
Selain itu kita juga bisa mengadakan acara kumpul – kumpul dengan customer atau pelanggan kita. Ajak saja mereka meet up dan membahas beberapa bahasan santai yang mengakrabkan antara bisnis online kamu dengan mereka.

8. Minilovebites.com suka sekali dandani paket produknya

Nah, untuk sukses di bisnis online, kamu harus punya hal yang unik dan membedakan kamu dengan bisnis online lainnya. Kalau dirasa website, produk dan bahkan harga kamu sangatlah bersaing dengan kompetitor, kamu bisa bangun keunikan dari segi packaging produk kamu. Sekalipun produk kamu hanya pakaian yang tidak perlu box besar saat dibungkus, tapi produk kamu harus punya perlakuan istimewa.
Seperti yang dilakukan oleh Diah Venita, owner dari Minilovebites. “Kami terus berupaya untuk meningkatan dan mengutamakan rasa pada setiap produk yang kami hasilkan. Selain itu kami juga memberikan sebuah packaging yang bagus dan menarik, serta pelayanan yang bernilai excellent. Kami pun berpendapat bahwa produk, desain, website, toko dan cara berbisnis kami yang simple dan to the point ini merupakan cerminan dari kepribadian kami sendiri”. 
Baginya harus ada yang istimewa dan berbeda dari pesaing kita, salah satunya yang ia lakukan adalah melalui packaging kue yang ia kirimkan ke konsumen.

9. Berani ciptakan produk unggulan kamu sendiri

Keunikan yang harus toko online kamu punya bisa kamu ciptakan dari produk yang kamu jual. Jika memang kamu menjual produk yang sama dengan kompetitor, kamu bisa beri inovasi yang berbeda dari mereka. Produk buatan kamu sendiri akan memberikan kesan dan nilai plus bagi pelanggan kamu.
Seperti yang dilakukan oleh Abdul Haris owner dari Viatushop.com. “Bisnis yang kami jalankan saat ini adalah jasa pembuatan sepatu handmade yang dapat dipesan dengan model dari kami atau model dari manapun secara by request mulai dari ukuran, hak, warna,bahan, dan lain-lain.
Mungkin  banyak yang membuka jasa pembuatan sepatu dengan kami, namun yang berbeda dari kami adalah kami tidak membataskan jumlah minimal pemesanan, partai besar, kecil, atau satuan akan kami terima dengan senang hati”.
Begitu pentingnya sebuah keunikan untuk nilai toko online kamu. Gak ada salahnya kalau kamu mulai berinovasi menciptakan produk kamu sendiri. Kamu bisa menciptakan merek dan promosi bisnis kamu sendiri.
Lalu mana yang akan kamu lakukan agar bisa mengikuti jejak sukses mereka? Bisnis online bisa jadi solusi kamu yang ngakunya ga punya waktu dan modal untuk bisnis, tapi ingin sukses jadi pebisnis.

8 Tips Memasarkan Produk melalui Media Sosial

 
ENTREPRENEURSHIP - Untuk meraih sukses dalam memasarkan produk, media sosial saat ini menjadi alat paling manjur dalam mengembangkan bisnis. Media sosial kerap dimanfaatkan para pebisnis untuk memperluas merek dan menambah jumlah pelanggan.
Twetter, Facebook, Instagram, Google+ dan media sosial lainnya menjadi ajang mempromosikan produk. Dikutip dari situs entrepreneur, ada delapan tips dalam membangun merek melalui media sosial, yaitu:
1. Membuat tweets Anda menonjol
Jika Anda tidak ingin tulisan membingungkan di Twitter, pastikan untuk menyertakan gambar, link yang terkait untuk memisahkan missives Anda dari torrent tweets lainnya.
2. Ekspresikan diri Anda dengan posting lagi
Jika Anda merasa dibatasi oleh jumlah 140 karakter di Twitter, Anda bisa memperluas ke titik tulisan pada platform, seperti Tumblr, Google+ dan LinkedIn.
3. Memperkuat jaringan di Facebook
Jika Anda menemukan bahwa perusahaan Anda tidak mendapatkan respon di Facebook, perlu untuk membuat group di Facebook untuk memicu lebih banyak koneksi dan percakapan di sekitar produk dan merek. Pelanggan Anda juga dapat memilih untuk mendapatkan update dari Anda dengan cara ini.
4. Tindakan inspire
Berusaha untuk memperbanyak yang menyukai halaman dalam posting Anda untuk mendapatkan lebih banyak traksi, klik dan konversi.
5. Tetap top of mind
Menyesuaikan posting Anda untuk setiap masyarakat dan pastikan untuk menyertakan link ke account sosial lainnya, sehingga pelanggan tahu tempat lain untuk menemukan Anda.
6. Membuat koneksi
Anda tidak hanya menjual produk atau jasa, tetapi jaringan yang lebih besar. Jika Anda tahu orang-orang di sekitar akan mendapat manfaat dari pertemuan. Apakah mereka seorang investor, penasihat, klien atau pelanggan, membuat pendahuluan bahwa Anda dan merek mudah diingat dengan baik.
7. Bagi tanggapan Anda
Ketika Anda mendapatkan umpan balik positif dari pelanggan, jangan takut untuk menyorotnya. Retweet pelanggan dengan pujian, ucapkan terima kasih kepada pelanggan individu pada halaman Facebook Anda.
8. Kembangkan ide pemasaran
Jika ide pemasaran menarik bagi Anda, tetapi Anda tidak yakin apakah itu akan bekerja, tidak hanya melakukan penelitian tetapi mencobanya. Orang-orang akan menghargai sesuatu yang sedikit tidak biasa, dan itu bisa dilakukan.

Terbunuhnya Sang Ayah Di Perang Badar


Peperangan yang tidak seimbang, kaum muslimin berjumlah 314 sementara kuffar Quraisy 950 pasukan. Dalam perang Badar, tersebutlah seorang sahabat bernama Abu Ubaidah yang berperang penuh keberanian, beliau menerjang musuh, orang-orang kufar Quraisy segan berhadapan bahkan mereka takut menghadapi pejuang ini, karena Abu Ubaidah berperang tidak ada rasa takut untuk mati. Tatkala perang berkecamuk, tiba-tiba ada diantara tentara Quraisy yang berusaha menghadang Abu Ubaidah, beliaupun menghindar dari hadangan tentara tersebut dan berusaha menjauh, tetapi upaya tersebut tidak mendapatkan hasil, tentara Quraisy tersebut senantiasa mengikuti kemana Abu Ubaidah pergi bahkan menghadangnya penuh dengan berani. Diwaktu dimana Abu Ubaidah dalam keadaan sempit dan susah untuk menghindar maka Abu Ubaidah mengayunkan pedangnya dan menebas orang tersebut, tersungkurlah tentara Quraisy itu. Ternyata tentara itu adalah Abdullah bin Jarrah, ayah Abu Ubaidah.

Beliau tidak membunuh ayahnya, yang beliau bunuh adalah kesyirikan yang ada pada pribadi ayahnya, yang dengannya Allah menurunkan wahyu-Nya,

لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الإيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat- Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.” (QS. Al-Mujadilah: 22)

Abu Ubaidah adalah seorang sahabat yang berperawakan tinggi, kurus dan berwajah tampan. Orang yang melihatnya akan merasa senang dan membuat jiwa tenang dan ingin selalu berjumpa dengannya. Beliau sangat tawadhu, pemalu, tetapi jika keadaan harus memaksa beliau untuk bertindak dan berbuat, maka ia bergegas melakukan bagaikan singa yang hendak menerkam mangsanya.

Abu Ubaidah bernama Amir bin Abdillah bin Jarrah Al-Qurasy dan memiliki kunyah Abu Ubaidah.
Abdullah bin Umar bin Khaththab berkata, “Tiga orang yang merupakan pemuka orang Quraisy dan sangat dihormati akhlak mereka, mulia, pemalu, jika mereka berbicara kepada kalian tidak akan berdusta, jika kalian berbicara dengan mereka, merekapun tidak mendustakan kalian. Mereka adalah Abu Bakar as Siddiq, Utsman bin Affan dan Abu Ubaidah bin Jarrah.”

Menurut tarikh, Abu Ubaidah termasuk orang yang pertama masuk dalam agama islam. Beliau masuk Islam setelah mendapat ajakan Abu Bakar As Siddiq, sehari setelah Abu Bakar menyatakan keislamannya. Setelah itu berturut-turut diikuti Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Mad’uun dan Al Arqam bin Abi al Arqam. Mereka semua masuk Islam di hadapan Rasulullah dan mengumumkan keislaman mereka dan merekalah tonggak dan pilar umat ini.

Suatu ketika datanglah utusan dari orang-orang Nasrani kepada Rasulullah. Merekapun berkata, “Wahai abul Qasim(panggilan untuk Rasulullah), utuslah kepada kami seorang laki-laki dari sahabatmu, yang engkau ridhai untuk menjadi hakim dan penengah diantara kami dalam suatu urusan yang kami miliki dari harta kami yang kita berselisih didalamnya, karena kaum muslimin dihadapan kami sangat terhormat dan kami ridha dengan kalian. ”Maka Rasulullah bersabda, ‘Datanglah nanti sore, niscaya aku akan kirim orang yang kuat dan terpercaya.’ Umar berkata, “Maka aku datang untuk shalat dhuhur di awal waktu dan aku tidak berharap untuk memperoleh jabatan sebagai pemimpin kecuali waktu itu, dan harapanku adalah orang yang di pilih Rasul adalah aku, sesudah sholat dhuhur, maka baginda Nabi menoleh ke kanan dan ke kiri, maka akupun berusaha menampakkan diriku sehingga baginda Nabi melihatku. Nabi kembali menengok ke kanan dan ke kiri, kemudian beliau melihat Abu Ubaidah dan memanggilnya dan berkata, ’Pergilah bersama mereka(orang-orang Nasrani) dan jadilah penengah diantara mereka, hakimilah apa yang mereka perselisihkan dengan adil’, maka aku(Umar) berkata,’’Abu Ubaidahlah yang telah meraihnya.”

Sesudah Rasulullah wafat, maka Umar berkata kepada Abu baidah, ”Bentangkanlah tanganmu wahai Abu Ubaidah karena aku mendengar Nabi bersabda, ’Tiap umat memiliki orang yang dipercaya dan sesungguhnya orang yang terpercaya untuk umat ini adalah Abu Ubaidah.’ Maka beliau menjawab, ‘Aku tidak akan maju dan didepanku ada orang yang diperintah Rasulullah untuk menjadi imam shalat dan kami akan mempercayakannya sampai wafat.” Kemudian Abu Bakar dibaiat dan kaum muslimin pun sepakat untuk membaiatnya.

Menjelang wafat, Abu Ubaidah berwasiat kepada tentaranya dan waktu itu beliau berada di negeri Syam. “Sesungguhnya aku berwasiat kepada kalian, dan kalian akan semakin baik selama kalian memeganginya yaitu dirikanlah shalat, berpuasalah Ramadhan, bersedekahlah, berhajilah dan berumrahlah, dan lakukanlah saling memberi nasihat, nasihatilah pemimpin kalian dan janganlah kalian curangi mereka dan janganlah kalian mencampakkan dalam kebinasaan karena dunia…”
Tidak lama sesudah beliau memberi nasihat, ajalpun menyongsongnya, semoga Allah meridhainya dan meridhai kita semua. Amiin, ya Rabbal alamin..

Sumber: Majalah Al-‘Ibar, Edisi VI
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. MUTIARA NABAWI - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger